Ekonom Indonesia

kumpulan artikel ekonom-ekonom Indonesia

Konglomerat dan Ekspor Indonesia

Oleh:

Sri Mulyani Indrawati (2000)


Presiden Gus Dur kembali meramaikan wacana (menurut Jaksa Agung) nasional dengan menyatakan bahwa akan dilakukan penundaan proses hukum kepada tiga konglomerat yaitu Shinivasan, Sjamsul Nursalim, dan Prajogo Pangestu dengan alasan tidak ingin mengganggu ekspor Indonesia. Begitu banyak komentar berhamburan mengenai pernyataan tersebut, dari mulai tuduhan terjadinya intervensi hukum, kemungkinan mobilisasi dana untuk melanggengkan kekuasaan, hingga kecurigaan terciptanya kroni baru. Sebaliknya pernyataan dan klarifikasi dari para pembantu dan juru bicara Presiden adalah bahwa apa yang dinyatakan baru sekedar wacana. Kita coba menyimak dan mengembangkan wacana tersebut terutama dari aspek pertimbangan ekspor.

Continue reading

March 29, 2010 Posted by | Ekspor, Sri Mulyani Indrawati | , , , | Leave a comment

Kurs Dolar dan Perdagangan Dunia

Oleh:

Iwan Jaya Azis (1997)

Sekelompok ilmuwan yang mendalami masalah proyeksi ekonomi berkumpul di gedung pusat PBB New York awal minggu ini. Proyeksi ekonomi tiap wilayah di dunia disampaikan, dan secara umum ada kesepakatan (disamping banyak ketidak-sepakatan) bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan sedikit lebih baik dalam dua tahun mendatang. Meskipun angka pasti yang disepakati semua pihak belum tercapai, namun semua setuju bahwa ekonomi dunia akan tumbuh di atas 3 persen baik tahun ini maupun tahun depan.

Perdebatan tentang kecenderungan perdagangan dunia tergolong paling menarik dalam pertemuan tersebut, paling tidak karena dua hal: fluktuasi yang begitu tajam dalam 5 tahun terkahir, dan perubahan nilai tukar (misalnya dolar AS terhadap Yen) yang sulit diprediksi dengan tepat.

Continue reading

March 29, 2010 Posted by | Iwan Jaya Azis, Nilai Tukar | , , , , | Leave a comment

Selalu Masih Bisa diperbaiki

Oleh:

Mohamad Sadli (2005)

Ada anomali yang agak mengganggu dan harus dicari penjelasannya. Di satu fihak keadaan ekonomi dan politik cukup baik dan stabil. Laju pertumbuhan PDB telah menyentuh 6% setahun dan laju inflasi masih di bawah 10% setahun. Tetapi di lain fihak banyak responden terhadap suatu survey merasakan tidak ada perbaikan nasibnya sesudah krisis 1998 dan dalam ingatannya keadaan sebelumnya lebih baik. Perubahan politik pun tidak dirasakan sebagai kemajuan. Tetapi, kalau ditanyakan apakah lebih baik kembali ke zaman Orde Baru, maka pasti pilihan demikian ditolak.

Perubahan regim yang mendadak memang selalu membawa kesemerawutan. Sejarah RI penuh dengan contohnya. Regim kolonial Belanda terlempar oleh perang dunia II dan invasi Jepang. Regim pendudukan Jepang secara mendadak diganti oleh regim kemerdekaan. Banyak orang (tua) mengingat zaman Belanda lebih nyaman ketimbang zaman merdeka. Regim pendudukan Jepang yang mengganti regim kolonial Belanda juga membawa penderitaan ekonomi dan sosial sendiri. Regim Suharto yang bertahan tiga dasawarsa banyak membawa kemajuan ekonomi, akan tetapi pada akhirnya tumbang juga oleh demonstrasi besar-besaran sesudah ekonomi dilanda krisis perbankan. Orde Reformasi yang mengganti regim Suharto tidak langsung bisa membawa stabilitas. Baru setelah kira-kira tujuh tahun maka dewasa ini mudah-mudahan ada permulaan stabilitas baru. Tetapi, pemerintah SBY-MJK belum lolos juga dari ujian sejarahnya.

Continue reading

March 29, 2010 Posted by | Kebijakan Ekonomi, Mohamad Sadli | , , , , , , | Leave a comment