Ekonom Indonesia

kumpulan artikel ekonom-ekonom Indonesia

Gejolak Kurs dan Kondisi Fundamental Ekonomi

Oleh:

Iwan Jaya Azis (1998)

Sudah banyak sekali analisis tentang gejolak kurs di Asia Tenggara. Walaupun tidak semua, namun saya mendapat kesan bahwa sebagian besar analisis tersebut tidak memperjelas proses yang terjadi, bersifat spekulatif, dan bahkan ada yang mengkaitkannya dengan perlunya pembenahan sektor riil.Namun, bagi saya yang paling meleset adalah analisis yang menyimpulkan bahwa “peristiwa gejolak kurs baru baru ini membuktikan bahwa kondisi fundamental ekonomi tidak lagi menjadi faktor penting.” Ini nonsense!

Lalu ada juga yang mengkaitkan gejolak kurs dengan kecanggihan teknologi dipasar uang dan modal, dimana pembelian suatu mata uang dapat dilakukan lebih cepat dibandingkan dengan situasi beberapa tahun lalu. Sebenarnya, dari dulu sampai sekarang tidak ada perbedaan. Teknologi mempercepat pembelian matauang antar-negara tidak banyak berubah dalam 10 tahun terakhir. Dulu sudah mudah, sekarang juga mudah. Jadi, bukan itu persoalannya.

Continue reading

Advertisements

April 1, 2010 Posted by | Iwan Jaya Azis, Krisis Ekonomi | , , , | Leave a comment

Sistim Devisa Bebas dipersoalkan Lagi

Oleh:

Mohamad Sadli (1998)

Setelah Malaysia menerapkan pengekangan (controls) pada sistim lalu lintas devisanya maka debat di Jakarta mulai lagi, apakah Indonesia juga tidak perlu mengadakan controls atau pengendalian pada lalu lintas devisanya? Pada umumnya, pemerintah dan para ekonom profesional berhati-hati dalam sikapnya, dan tidak menganjurkan controls pada waktu ini. Sikap pemerintah dan Bank Indonesia lebih pasti: tidak memikirkan mengubah sistim yang berlaku.

Di lain fihak, Iman Taufik dari Kadin Indonesia berpendapat bahwa “kondisi lingkungan strategis akan memaksa Indonesia menerapkan langkah tersebut dan Kadin Indonesia akan terus mendesak diterapkannya kebjiakan itu. Kontrol devisa yang sifatnya terbatas, atau “semi kontrol devisa”, diperlukan, katanya.

Pakar pasar uang, Thoemion (BN: mohon ejaan nama ini dicheck), di TV, juga yakin bahwa apa yang dilakukan Malaysia lebih baik daripada free float dan tingkat bunga tinggi yang dilakukan Bank Indonesia. Keluhan dunia bisnis mengenai tingkat bunga (SBI) yang sangat tinggi dan kurs rupiah yang bisa bergolak dari hari ke hari adalah sangat umum. Dunia bisnis tidak bisa bekerja dan survive di lingkungan demikian.

Continue reading

April 1, 2010 Posted by | Krisis Ekonomi, Mohamad Sadli | , , , , , | Leave a comment

Wawancara dengan Theo F. Toemion: Profesi Idaman Karena Keasyikan Main Uang

Oleh:

G. Sujayanto/A. Heru Kustara/Mayong S. Laksono dari BelajarForexPro (1998)

Rupiah terpuruk, perekonomian gonjang-ganjing, dan negara di ambang kebangkrutan. Ekonom bersuara, tak ketinggalan pula para anggota DPR. Pengamat baru bermunculan. Makin bingunglah orang. Uraian siapakah yang jadi pegangan? “Tak ada yang bisa memberikan gambaran soal pasar uang dengan lebih jelas selain para pemain Forex (Valas),” kata Theo Francisco Toemion (42), pengamat pasar uang sekaligus pemain Forex (Valas), meski kini lebih banyak membagi pengetahuan soal dunia yang telah belasan tahun ditekuninya itu kepada orang lain.

Ada perbedaan antara pandangan para pakar dengan Theo F. Thoemion sehubungan dengan krisis ekonomi yang memburuk sejak kuartal terakhir tahun lalu. Pihak pertama lebih melihat krisis berpangkal pada lemahnya sistem perbankan, kebocoran anggaran, buruknya pengawasan, monopoli, kolusi, korupsi, nepotisme, dan ekonomi biaya tinggi. Sedangkan Theo lebih melihat ulah spekulan di pasar uang sebagai sebab paling dominan. Sisi-sisi negatif penyebab keroposnya fondasi ekonomi itulah yang menyebabkan krisis tak segera bisa diatasi. Kalau Korea, Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia bisa pulih dalam hitungan bulan, negara kita jauh lebih lama.

Continue reading

March 31, 2010 Posted by | Krisis Ekonomi | , , , , | Leave a comment

Wawancara dengan Thee Kian Wie: “Jika IMF Menolak, Perekonomian Indonesia Akan Mati”

Oleh:

Iwan Setiawan dari TEMPO Interaktif (1999)

Konsepnya dinamakan IMF Plus. Itulah cara pemerintah untuk mengatasi krisis sebagaimana diutarakan Pak Harto dalam pidato pertanggungjawabannya di depan MPR, 1 Maret lalu. Tak jelas apa arti “plus” di sini. Ada yang menduga plus CBS, ada pula CBS total. Belum lagi pernyataan itu berumur sepekan, ketika orang masih bertanya-tanya, apa konsep “plus” pemerintah itu, Pak Harto mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Yakni, kesepakatan pemerintah dengan IMF itu akan membawa Indonesia pada liberalisme.

Banyak kalangan makin bingung menanggapi pernyataan itu. Apalagi menurut Pak Harto, kesepakatan IMF itu tidak sesuai dengan semangat UUD 45, khususnya pasal 33. Benarkah demikian? Ekonom dan peneliti senior dari LIPI, Dr. Thee Kian Wie, 62 tahun, punya pendapat menarik menanggapi pernyataan Pak Harto itu. Kepada Iwan Setiawan dari TEMPO Interaktif, ia bertutur,”…saya tidak mengerti bagian mana dari 50 butir kesepakatan IMF itu yang tidak sesuai dengan UUD 45, apalagi melanggar konstitusi.” Tambahnya,”Sebaliknya malah kesepakatan itu sangat sesuai dengan UUD 45, terlebih mengenai penghapusan monopoli dan oligopoli.

Berikut petikan wawancara dengan ekonom yang mendalami sejarah pembangunan ekonomi Indonesia itu, Rabu, 11 Maret 1999, di ruang kerjanya yang sederhana, lantai 5 gedung LIPI, kawasan Gatot Soebroto, Jakarta.

Continue reading

March 26, 2010 Posted by | Krisis Ekonomi | , , , | Leave a comment